LENTERAMERAH – Perdebatan mengenai efektivitas operasi militer Israel terhadap Hezbollah kembali mengemuka setelah analis Iran-Amerika, Sina Toossi, mengkritik cara Washington memahami kelompok tersebut.
Melalui unggahan di X pada 21 Juni 2026, Toossi menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakmampuan Israel mengalahkan Hezbollah di Lebanon.
Menurut Toossi, masalah utama bukan terletak pada kurangnya kekuatan militer Israel, melainkan pada cara Hezbollah dipahami oleh banyak pengambil kebijakan di Washington.
Hezbollah Bukan Sekadar Proksi Iran
Dalam unggahannya, Toossi menyatakan bahwa Hezbollah kerap dipandang hanya sebagai proksi Iran. Padahal menurutnya, kelompok tersebut memiliki akar sosial, politik, dan komunitas yang kuat di Lebanon.
“Hezbollah memiliki konstituen besar dengan keluhan dan kepentingan yang nyata. Itu tidak bisa dihilangkan hanya dengan pemboman,” tulis Toossi.
Pandangan tersebut mencerminkan perdebatan yang telah berlangsung lama di kalangan akademisi dan analis Timur Tengah mengenai karakter Hezbollah.
Didirikan pada awal 1980-an, Hezbollah berkembang bukan hanya sebagai kelompok bersenjata, tetapi juga sebagai kekuatan politik yang memiliki perwakilan di parlemen Lebanon serta jaringan sosial yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan layanan masyarakat.
Kritik terhadap Pendekatan Militer
Pernyataan Toossi muncul setelah laporan Fox News mengutip Trump yang menyatakan kekecewaannya terhadap operasi Israel di Lebanon.
Menurut koresponden Fox News Trey Yingst, Trump menilai Israel belum berhasil menuntaskan ancaman Hezbollah meskipun telah menjalankan operasi militer dalam skala besar.
Komentar tersebut memicu kembali diskusi mengenai efektivitas pendekatan yang berfokus pada penghancuran infrastruktur dan target militer dibanding upaya menyelesaikan faktor politik yang melatarbelakangi konflik.
Lebanon Tetap Menjadi Titik Krusial
Perdebatan mengenai Hezbollah berlangsung ketika Lebanon menjadi salah satu isu paling sensitif dalam implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran.
Sejumlah pejabat Iran dalam beberapa hari terakhir menegaskan bahwa penghentian konflik di Lebanon merupakan bagian penting dari kesepakatan yang sedang dibahas dengan Washington. Di sisi lain, Israel tetap memandang Hezbollah sebagai ancaman utama terhadap keamanan perbatasan utaranya. ***




