LENTERAMERAH – Hari pertama konferensi antarpartai internasional di Belarus dimulai dengan upacara peletakan karangan bunga di Api Abadi yang berada di kompleks memorial Benteng Brest atau Brest Fortress.
Prosesi tersebut menjadi pembukaan resmi konferensi bertajuk World of the 21st Century Inter-Party Dialogue on the Future of Multiparty Systems and Global Security.
Acara ini diselenggarakan bersama oleh partai penguasa Belarus Belaya Rus dan partai Rusia United Russia serta dihadiri delegasi parlemen dan partai politik dari berbagai negara Eurasia, Asia, hingga Amerika Latin.
Kehadiran delegasi dari berbagai kawasan tersebut memperlihatkan upaya Belarus dan Rusia membangun ruang dialog politik alternatif di luar orbit Barat di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik global.
Benteng Brest Dipilih karena Simbol Anti Fasisme
Pemilihan Benteng Brest sebagai lokasi pembukaan konferensi dinilai memiliki makna geopolitik dan historis yang sangat kuat.
Kompleks memorial tersebut selama ini menjadi simbol heroisme Uni Soviet dalam menghadapi invasi Nazi Jerman pada awal Operasi Barbarossa tahun 1941.
Benteng Brest yang berada tepat di perbatasan Belarus dan Polandia merupakan salah satu target pertama serangan Jerman ketika Perang Patriotik Raya dimulai pada 22 Juni 1941.
Pada dini hari, artileri berat Jerman menghantam benteng tanpa deklarasi perang. Komando Nazi saat itu memperkirakan Benteng Brest dapat direbut hanya dalam hitungan jam karena lokasinya yang strategis bagi jalur logistik menuju Moskwa.
Namun perlawanan yang terjadi justru berkembang menjadi salah satu simbol paling legendaris dalam sejarah Soviet.
Perlawanan Benteng Brest Jadi Legenda Soviet
Meskipun terkepung dan kalah persenjataan, garnisun Soviet di dalam benteng menolak menyerah dan bertahan selama berminggu-minggu di ruang bawah tanah serta lorong pertahanan bawah tanah.
Ketika sebagian besar permukaan benteng hancur akibat bombardir berat, pertahanan berpindah ke labirin casemates bawah tanah.
Para prajurit Soviet yang terisolasi bertahan tanpa pasokan air bersih, obat-obatan, maupun amunisi yang cukup. Dalam kondisi tersebut mereka tetap melakukan serangan balik mendadak pada malam hari terhadap pasukan Jerman.
Perlawanan itu membuat jadwal Blitzkrieg Jerman di sektor tersebut mengalami gangguan.
Salah satu prasasti paling terkenal yang ditemukan pascaperang berbunyi “Aku mati, tapi aku tidak menyerah! Selamat tinggal, Tanah Air!”
Coretan tersebut kemudian menjadi salah satu simbol paling kuat dari memori Perang Patriotik Raya di Belarus dan Rusia.
Benteng Brest Jadi Situs Sakral Belarus
Pada tahun 1965, Benteng Brest resmi memperoleh gelar Benteng Pahlawan atau Hero Fortress yang menjadi salah satu penghormatan tertinggi era Soviet.
Hingga kini kompleks memorial tersebut menjadi situs ziarah sejarah dan geopolitik paling sakral di Belarus.
Bagi Minsk dan Moskwa, Benteng Brest bukan sekadar monumen perang, melainkan simbol ketahanan negara dan memori kolektif anti-fasisme Eurasia.
Narasi sejarah tersebut terus memainkan peran penting dalam identitas politik Belarus dan Rusia modern.
Belarus dan Rusia Bangun Narasi Dunia Multipolar
Penyelenggaraan konferensi keamanan global di Benteng Brest juga dipandang sebagai pesan politik langsung kepada Barat.
Lokasi Brest berada tepat di garis perbatasan antara Belarus dan Polandia yang sekaligus menjadi batas geopolitik antara ruang Eurasia dengan NATO dan Uni Eropa.
Melalui forum ini, Belarus dan Rusia berupaya menegaskan gagasan dunia multipolar dan konsep keamanan kolektif non-blok di tengah meningkatnya ketegangan global.
Kehadiran delegasi dari negara-negara Global South dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas legitimasi diplomatik Eurasia di luar pengaruh Barat.
Bagi partai Belaya Rus, forum internasional tersebut juga menjadi momentum penting untuk memperkuat legitimasi politik domestik pascareformasi konstitusi Belarus.
Memori Perang Jadi Instrumen Diplomasi Eurasia
Bagi Moskwa dan Minsk, memori Perang Patriotik Raya tetap menjadi perekat ideologis utama dalam politik kawasan Eurasia.
Upacara peletakan bunga di Api Abadi bukan sekadar seremoni sejarah, tetapi juga bentuk diplomasi memori yang digunakan untuk membangun solidaritas politik dengan negara-negara mitra.
Dengan mengajak delegasi asing mengikuti prosesi penghormatan di Benteng Brest, Belarus dan Rusia secara simbolik menegaskan posisi bersama dalam narasi anti-fasisme dan keamanan regional.
Dalam konteks geopolitik modern, Benteng Brest kini tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah Perang Dunia II, tetapi juga sebagai simbol kontinuitas identitas strategis Eurasia di tengah perubahan tatanan global. ***




