LENTERAMERAH – Penerbitan obligasi Danantara menjadi perhatian setelah beredar informasi mengenai perbedaan tingkat kupon yang ditawarkan kepada investor domestik dan investor internasional.
Dalam informasi yang beredar di media sosial, instrumen berdenominasi rupiah disebut menawarkan kupon 2 persen untuk tenor 5 tahun maupun 7 tahun. Sementara itu, instrumen berdenominasi dolar AS dipasarkan dengan kupon sekitar 5,35 persen untuk tenor 5 tahun dan 5,95 persen untuk tenor 10 tahun.
Perbedaan tersebut memicu diskusi mengenai posisi investor domestik dibandingkan investor asing dalam skema pendanaan yang dilakukan oleh Danantara.
Investor Global Serap Miliaran Dolar
Berdasarkan data distribusi investor yang beredar, penerbitan surat utang global Danantara berhasil menarik minat puluhan institusi investasi internasional.
Untuk tenor 5 tahun, nilai pemesanan mencapai lebih dari US$1,4 miliar yang berasal dari puluhan akun institusi. Investor dari Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia tercatat mengambil bagian dalam penawaran tersebut.
Sementara itu, tenor 10 tahun juga memperoleh permintaan lebih dari US$1,3 miliar dengan dominasi investor institusional seperti pengelola aset, perusahaan asuransi, dan dana pensiun.
Data tersebut menunjukkan minat yang cukup kuat dari pasar internasional terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara.
Mengapa Kupon Berbeda?
Dalam praktik pasar obligasi internasional, tingkat kupon umumnya ditentukan berdasarkan mata uang, tenor, kondisi suku bunga global, serta persepsi risiko investor.
Instrumen dalam dolar AS harus bersaing dengan berbagai produk pendapatan tetap di pasar internasional, termasuk obligasi pemerintah Amerika Serikat dan surat utang negara berkembang lainnya.
Karena itu, tingkat imbal hasil yang ditawarkan kepada investor global biasanya mengikuti kondisi pasar yang berlaku saat penerbitan dilakukan.
Di sisi lain, instrumen yang ditujukan kepada investor domestik dapat memiliki tujuan yang berbeda, termasuk mendukung pendanaan jangka panjang proyek strategis nasional dengan biaya dana yang lebih rendah.
Perdebatan soal Investor Domestik
Perbedaan kupon tersebut memunculkan tanggapan beragam di media sosial. Sebagian warganet menilai investor domestik yang berpartisipasi dalam pembangunan nasional seharusnya memperoleh penghargaan yang lebih besar.
Namun ada pula yang melihat instrumen berkupon rendah sebagai bentuk partisipasi jangka panjang yang tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan investasi. ***




