LENTERAMERAH – Nama Trans Padang menjadi salah satu topik yang paling banyak dibahas dalam percakapan mengenai transportasi umum di media sosial X.
Perdebatan bermula dari unggahan akun @Ardaffaf yang menyinggung alasan keterbatasan APBD yang sering digunakan pemerintah daerah ketika membahas pembangunan transportasi publik.
“Kalo lo masih setengah-setengah buat bikin transportasi umum yang layak dengan dalih APBD terbatas, mending malu sama Padang,” tulisnya.
Ia kemudian menyebut bahwa Kota Padang mampu mengembangkan Trans Padang hingga memiliki enam koridor meski tidak memiliki APBD sebesar kota-kota metropolitan.
Jadi Pembanding Bodetabek
Unggahan tersebut memicu berbagai tanggapan dari pengguna lain. Akun @mymileesoo menyebut Kota Bogor juga berhasil mengembangkan layanan bus perkotaan dengan empat koridor yang telah beroperasi.
Sementara akun @wat_aiwan64 membandingkan kondisi Tangerang Selatan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki layanan Trans Jogja. Meski demikian, nama Trans Padang tetap menjadi contoh yang paling sering muncul dalam diskusi tersebut.
Banyak pengguna menilai keberhasilan Padang menunjukkan bahwa besarnya anggaran daerah bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas transportasi umum.
Enam Koridor di Kota Padang
Trans Padang mulai beroperasi sebagai bagian dari upaya pengembangan angkutan massal di ibu kota Sumatera Barat.
Dalam perkembangannya, layanan tersebut terus bertambah hingga memiliki beberapa koridor yang menghubungkan berbagai kawasan penting di kota.
Keberadaan jaringan koridor tersebut membuat Trans Padang kerap dijadikan salah satu contoh sistem BRT tingkat kota di luar Pulau Jawa.
Keberhasilan itu dianggap menarik karena kapasitas fiskal Kota Padang jauh lebih kecil dibanding sejumlah daerah yang sering disebut dalam diskusi publik mengenai transportasi.
Ramai Dibandingkan dengan Kota Lain
Dalam percakapan yang berkembang di X, sejumlah pengguna membandingkan Trans Padang dengan kondisi di Bandung, Tangerang Selatan, hingga wilayah Bodetabek secara umum.
Perbandingan itu muncul karena beberapa kota dengan APBD yang lebih besar masih menghadapi ketergantungan tinggi terhadap kendaraan pribadi dan angkutan konvensional.
Sementara itu, akun @Ardaffaf menutup kritiknya dengan kalimat singkat yang kemudian banyak dikutip ulang oleh pengguna lain.
“Semuanya tergantung will broh,” tulisnya. ***



