LENTERAMERAH – Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert kembali memicu perdebatan setelah video wawancaranya mengenai program nuklir Iran beredar luas di media sosial pada 20 Juni 2026.
Video yang dibagikan akun X Furkan Gozukara menampilkan Olmert mengkritik keputusan Amerika Serikat keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018. Dalam unggahan tersebut, Olmert disebut menyatakan bahwa Iran mematuhi kesepakatan nuklir sebelum Washington menarik diri dari perjanjian tersebut.
Dalam cuplikan wawancara yang berasal dari program diskusi internasional, Olmert juga mengaitkan pembatalan JCPOA dengan tekanan politik yang dilakukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Kritik Lama terhadap Netanyahu
Olmert merupakan salah satu tokoh politik Israel yang paling vokal mengkritik Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir. Dalam sejumlah wawancara sepanjang 2025 dan 2026, ia berulang kali menyatakan bahwa pendekatan diplomasi lebih efektif dibanding eskalasi militer terhadap Iran.
Menurut Olmert, kesepakatan nuklir yang ditandatangani pada 2015 berhasil membatasi program pengayaan uranium Iran melalui mekanisme pengawasan internasional yang dijalankan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Ia berpendapat situasi berubah setelah pemerintahan Trump keluar dari JCPOA pada Mei 2018 dan menerapkan kembali kebijakan tekanan maksimum terhadap Teheran.
Perdebatan Mengenai Kepatuhan Iran
Pernyataan Olmert kembali menghidupkan perdebatan lama mengenai efektivitas JCPOA.
Sejumlah laporan IAEA pada tahun-tahun awal pelaksanaan kesepakatan menunjukkan Iran menjalankan berbagai kewajiban teknis yang tercantum dalam perjanjian, termasuk pembatasan tingkat pengayaan uranium dan inspeksi internasional.
Namun para pendukung kebijakan Netanyahu berargumen bahwa JCPOA memiliki kelemahan mendasar karena tidak mengatur program rudal balistik Iran, jaringan kelompok proksi regional, serta sejumlah ketentuan yang memiliki batas waktu berakhir atau sunset clauses.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan utama Netanyahu selama bertahun-tahun berkampanye menentang kesepakatan tersebut baik di Israel maupun di Amerika Serikat.
Muncul di Tengah Negosiasi Baru
Video Olmert beredar ketika diskusi mengenai kemungkinan kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian.
Berbagai laporan media internasional menyebut Washington dan Teheran masih membahas kerangka pembatasan program nuklir Iran setelah meningkatnya ketegangan regional sepanjang 2025 dan 2026.
Di saat yang sama, perdebatan mengenai keputusan Trump keluar dari JCPOA tetap menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam hubungan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran selama satu dekade terakhir. ***




