RHIRC dan Universitas Mumbai Gelar Konferensi Internasional tentang Polarisasi Geopolitik dan Konflik Global

RHIRC Russian House International Relations Club bersama Department of Civics and Politics, University of Mumbai, menggelar konferensi internasional yang membahas polarisasi geopolitik dan konflik global di Mumbai.
RHIRC Russian House International Relations Club bersama Department of Civics and Politics, University of Mumbai, menggelar konferensi internasional yang membahas polarisasi geopolitik dan konflik global di Mumbai.

LENTERAMERAH — RHIRC Russian House International Relations Club di Mumbai bersama Department of Civics and Politics, University of Mumbai, menggelar konferensi internasional bertajuk Geopolitical Polarization and Global Conflicts pada 26 Agustus 2026.

Konferensi berlangsung di Russian House in Mumbai dan mempertemukan akademisi, peneliti, serta pengamat hubungan internasional dari sejumlah negara. Forum ini juga diselenggarakan secara luring dan daring melalui Zoom.

Konferensi geopolitik RHIRC tersebut mengangkat isu yang semakin menonjol dalam politik internasional, yakni menguatnya polarisasi di tengah perubahan struktur kekuatan global dan konflik yang meluas ke berbagai kawasan.

RHIRC dan Universitas Mumbai Satukan Perspektif Internasional

Acara dibuka dengan sejumlah sambutan, termasuk dari Direktur Russian House Mumbai Victor Gorelykh, Kepala Russian House New Delhi Dr. Elena Remizova, Konsul Jenderal Belarus di Mumbai Alexandr Matsukou, serta Direktur Department of Civics and Politics University of Mumbai Prof. Liyakat Khan.

Tema konferensi diperkenalkan oleh Dr. Shoaib Khan selaku Kepala RHIRC Russian House International Relations Club Mumbai.

Menurut agenda acara, konferensi ini dibagi dalam beberapa sesi yang membahas konflik internasional, perubahan tatanan dunia, hubungan Eurasia, politik kekuatan besar, keamanan, hingga perkembangan teknologi dan geopolitik.

Sejumlah pembicara berasal dari India, Rusia, Belarus, Italia, China, Kazakhstan, Indonesia dan negara lainnya.

Multipolaritas Tidak Selalu Mengurangi Konflik

Salah satu perspektif yang muncul dalam konferensi datang dari Prof. Lorenzo Maria Pacini dari UniDolomiti of Belluno, Italia.

Dalam materi berjudul Distributed Heartland, or the Polarization of New Conflicts, Pacini mengangkat paradoks dalam transisi menuju dunia multipolar. Menurutnya, bertambahnya pusat kekuatan tidak otomatis mengurangi konflik.

“Multipolaritas tidak langsung membawa pengurangan konflik. Ia justru dapat menghasilkan lebih banyak konflik,” tulis Pacini dalam materinya.

Pacini melihat dunia multipolar sebagai ruang kompetisi yang belum mencapai keseimbangan. Dalam fase transisi, munculnya sejumlah pusat kekuatan baru justru dapat memperbanyak garis gesekan, baik antara kekuatan kontinental maupun dalam persaingan menghadapi kekuatan eksternal.

Indonesia dan Tantangan Dunia Multiplex

Perspektif lain disampaikan analis geopolitik Indonesia, Fauzan Luthsa, melalui materi berjudul State Capacity in a Multiplex World and the Challenge of Fragmented Interdependence.

Fauzan mengangkat konsep dunia multiplex, sebuah lingkungan internasional yang tidak hanya diisi oleh sejumlah kutub kekuatan, tetapi juga berbagai institusi, jaringan, kepentingan dan kemitraan yang saling berinteraksi.

“Multipolaritas dapat memberikan lebih banyak pilihan. Tetapi lebih banyak pilihan tidak otomatis menghasilkan otonomi strategis,” ujar Fauzan dalam materinya.

Menurutnya, kemampuan negara membangun kapasitas domestik, mendiversifikasi hubungan, mengintegrasikan kebijakan strategis dan mempertahankan ruang untuk menentukan pilihan akan semakin menentukan posisi negara dalam lingkungan internasional yang terfragmentasi.

Konferensi geopolitik RHIRC di Mumbai mempertemukan perspektif yang beragam mengenai dunia yang sedang bergerak menjauh dari struktur kekuatan tunggal, tetapi belum menemukan keseimbangan baru yang stabil. ***