LENTERAMERAH – PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) bersiap melakukan perubahan besar. Emiten yang selama ini bergerak di perdagangan bahan advertising dan printing tersebut menyiapkan transaksi sekitar Rp286 miliar untuk mengambil alih mayoritas saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon dan masuk ke bisnis layanan kesehatan.
Namun, ada angka yang perlu dicermati investor.
Berdasarkan data keuangan yang tercantum dalam dokumen rencana transaksi, PT Hasna Medika Bakti Cirebon masih mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp12,34 miliar per 30 April 2026. Penjualan neto perusahaan tercatat Rp75,46 miliar, tetapi beban usaha dan beban pendanaan membuat perusahaan tersebut masih membukukan kerugian.
Analis Pasar Modal Strategi Institute, Fauzan Luthsa, menilai kondisi tersebut membuat dasar ekonomi akuisisi perlu dijelaskan secara terbuka kepada pemegang saham publik.
“Masuk ke sektor kesehatan bukan masalah. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa VISI bersedia menyiapkan transaksi ratusan miliar rupiah untuk mengambil alih mayoritas perusahaan yang berdasarkan laporan keuangannya masih mencatatkan kerugian,” kata Fauzan.
Menurut dia, investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar narasi transformasi bisnis. Sebab, akuisisi perusahaan yang masih merugi dapat menjadi investasi yang menguntungkan apabila manajemen memiliki strategi yang jelas untuk memperbaiki kinerja.
“Masalahnya, publik perlu tahu dari mana pertumbuhan dan laba itu nantinya akan datang. Jangan sampai yang dijual hanya cerita tentang prospek industri kesehatan, sementara angka perusahaan yang diakuisisi belum menunjukkan kemampuan menghasilkan keuntungan,” ujarnya.
Selain kerugian, struktur keuangan PT Hasna Medika Bakti Cirebon juga perlu diperhatikan. Per 30 April 2026, perusahaan tersebut memiliki total aset Rp365,32 miliar dan liabilitas Rp335,06 miliar, sementara ekuitasnya sekitar Rp30,26 miliar.
“Angka itu tidak otomatis berarti perusahaan tersebut buruk atau tidak layak diakuisisi. Tetapi semakin besar transaksi yang dilakukan, semakin besar pula kewajiban VISI untuk menjelaskan dasar valuasi dan prospek bisnisnya,” kata Fauzan.
Ia menilai investor juga perlu mengetahui secara rinci bagaimana dana Rp286 miliar tersebut digunakan dalam transaksi.
“Berapa yang digunakan untuk membeli saham pemegang lama, berapa yang masuk menjadi modal perusahaan, dan bagaimana dampaknya terhadap kondisi keuangan setelah transaksi. Itu yang harus menjadi perhatian,” ujarnya.
VISI kini sedang bergerak dari bisnis perdagangan bahan advertising dan printing menuju sektor kesehatan. Bagi Fauzan, perubahan tersebut membuat manajemen harus membuktikan bahwa transaksi yang dilakukan bukan sekadar memperbesar ukuran perusahaan.
“Investor tidak hanya perlu melihat perusahaan menjadi lebih besar. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setelah transaksi ini nilai perusahaan dan kemampuan menghasilkan laba benar-benar meningkat,” katanya. ***




